Follow Us @soratemplates

Rabu, 23 Maret 2022

IMPLEMENTASI ITIL (INFORMATION TECHNOLOGY INFRASTRUCTURE LIBRARY) TERHADAP PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)

09.23 0 Comments

Struktur KAI Dirombak – Bisnis Jakarta 

(https://www.bisnisjakarta.co.id/wp-content/uploads/2018/01/ptkai.png) 


PT Kereta Api Indonesia biasa dikenal dengan PT KAI atau KAI merupakan PT Persero yaitu bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang artinya PT KAI dikelola oleh negara dengan sistem profit oriented. PT KAI menyediakan dan mengurus jasa angkutan bagi penumpang serta barang menggunakan alat transportasi kereta api di Indonesia.

Mengikuti perkembangan dinamika dalam dunia usaha, KAI melebarkan sayapnya dengan menyelenggarakan kegiatan usaha lainnya yang tentunya berbasis kereta api seperti pengelolaan properti, pariwisata, restoran dan distribusi logistik.

Selalu mengutamakan para pelanggan, KAI terus melakukan pembaharuan serta evaluasi mengenai layanan bagi pelanggannya dengan meningkatkan business value pada perusahaan. Maka dari inilah diadakan penerapan layanan penyediaan pelanggan yang berkualitas melalui ITSM (IT Service Management) yang mengacu kepada versi 3 tahun 2011 dari ITIL (Information Technology Infrastructure Library) sebagai best practice.

ITIL berguna untuk mengelola teknologi informasi infrastruktur, operasi serta pengembangannya. Prosesnya melalui pendekatan berkualitas tinggi demi mendapatkan efektivitas bisnis dan manajemen layanan TI yang efisien. Fokus dari ITIL adalah pada pemantauan dan peningkatan kualitas bisnis maupun perspektif pelanggan dari layanan TI. Berikut adalah lima domain ITIL :

1.    Service Strategy

Domain Service Strategy menelaah mengenai strategi pengembangan untuk mengganti manajemen service TI menjadi aset strategis dari organisasi. PT KAI menyelenggarakan inovasi dengan meluncurkan beraneka ragam kebijakan guna menjalankan peningkatan mutu pelayanan transportasi kereta api. Kebijakan yang dimaksud antara lain adalah peniadaan karcis peron, adanya nama penumpang dalam tiket kereta api, mempersingkat waktu karena semakin mudah proses pemesanan tiket yaitu bisa dipesan secara online melalui website resmi.

Perangkat pelayanan patut mewujudkan kepuasan maksimal para pelanggannya dengan mengamati serta mewujudkan kualitas jasa seperti kemudahan memperoleh pelayanan, efisiensi waktu pelayanan, akurasi pelayanan dalam menerima kenyamanan dan keamanan seperti yang dikatakan oleh Gaspersz (1997:23).

2.    Service Design

Domain Service Design memperjelas mengenai pengembangan panduan manajemen layanan TI bersumber pada strategi terdahulu yang telah dikembangkan pada domain Service Strategy. Terdapat delapan proses dalam domain Service Design, yakni Service Design Coordination, Service Catalogue Management, Service Level Management, Availability Management, Capacity Management, Service Continuity Management, Information Security Management, Supplier Management. Hanya dua dari delapan proses yang belum dimiliki oleh PT KAI yaitu Service Catalogue Management dan Service Level Management. Padahal dua proses tersebut memiliki fungsi sebagai media perantara antara fasilitator layanan TI dengan konsumennya dalam mencapai persetujuan tingkat layanan berupa kontrak maupun pelaksanaannya.

PT KAI berfokus pada peningkatan pelayanan dan kinerja layanan kepada pelanggan, oleh karena itu, dibutuhkan desain layanan Service Catalogue Management dan Service Level Management untuk menunjang keberlangsungan layanan yang bernilai bagi pelanggan. PT KAI akan memfokuskan diri pada pembuatan rancangan Service Catalogue kemudian membuahkan hasil berupa dokumen berisi sumber informasi perihal IT service delivery bagi bisnis dari organisasi penyedia layanan. Oleh karena itu, penataan rancangan proses Service Catalogue Management memanifestasikan sebuah dokumen Service Catalogue mengenai deskripsi layanan TI pada unit layanan angkutan penumpang serta dokumen service portofolio mengenai detail seluruh layanan TI pada PT KAI.

Selain itu, PT KAI juga terfokus dalam pembuatan rancangan Service Level Management yang kemudian menerbitkan dokumen berisi seluruh permintaan yang berhubungan dengan layanan TI, operasional layanan TI dan kemampuan kerja dalam layanan TI, akibat belum adanya pengamatan terlebih dokumentasi tentang kinerja layanan TI pada layanan angkutan penumpang serta rancangan Service Level Management yang nantinya memanifestasikan dokumen Service Level Requirement, Service Level Agreement serta Operational Level Agreement.

3.    Service Transition

Domain Service Transition menerangkan proses peralihan tata kelola lama ke tata kelola baru yang sebelumnya telah dilakukan di domain Service Design.

4.    Service Operation

Setelah proses peralihan pada domain Service Transition, tata kelola baru direalisasikan dengan memonitor efek kegagalan pada tahap domain Service Operation. Karena pada tahap ini, menjelaskan mengenai tahap best practice untuk melangsungkan manajemen service TI. Layanan dari value yang sudah dirancang dipastikan sampai pada user maupun pelanggan adalah tanggung jawab domain Service Operation.

PT KAI mengalami insiden terkait domain Service Operation yaitu mengenai operasional TI maupun non-TI. Contoh insiden operasional TI yang dialami PT KAI adalah gangguan dari program penjualan tiket secara online lantaran tidak dapat melakukan print out tiket di stasiun, ketidakberhasilan sistem dalam pembuatan jadwal baru sampai adanya double seat passanger. Tentunya masalah IT tersebut harus segera ditanggulangi sehingga tidak berimbas banyak pada keseluruhan sistem penjualan tiket online.

5.    Continual Service Improvement

Domain Continual Service Improvement bertujuan untuk peningkatan layanan berkelanjutan yang melingkupi tiga hal, yaitu :

a.    Service Review

Service Review berguna untuk memonitor layanan bisnis dan infrastruktur secara berkala dan terorganisasi dengan baik. Dengan adanya Service Review, diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan.

b.    Process Evaluation

Process Evaluation bertujuan untuk memandu proses secara berkala. Pengidentifikasian area yang metriknya ditujukan tidak terwujud dan mengelola bench marking, audit serta pengadaan evaluasi secara periodik.

c.    Definition of CSI Initiatives

Fungsi dari Definition of CSI Initiatives adalah memutuskan gagasan ide terperinci untuk terus memperbaiki layanan dan proses, bersumber pada pengamatan layanan dan ulasan mengenai proses-prosesnya. Inisiatif ini merupakan inisiatif internal yang bersumber dari penyedia layanan maupun inisiatif hasil kerjasama pelanggan.

 

Referensi :

1. https://www.kai.id/corporate/about_kai/

2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_Api_Indonesia

3. https://hanhanmah.blogspot.com/2019/03/penerapan-itil-information-technology.html

4. https://adoc.pub/perancangan-service-operation-pada-layanan-angkutan-penumpan.html

Selasa, 19 Januari 2021

Ilmu Pengetahuan, Teknolgi dan Kemiskinan

08.32 0 Comments

ILMU PENGETAHUAN,

TEKNOLGI DAN KEMISKINAN

 

 PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN PERKOTAAN

(STUDI KASUS PADA KOMUNITAS PUNK DI KOTA YOGYAKARTA)

 

Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah

Ilmu Sosial Dasar

 

Oleh :

       JELITA MANTIKA PUTRI   (1KA11/10120556)

 

 

FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2020/2021





PENDAHULUAN

       I.            Latar Belakang

Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang ada saat ini akan terus berkembang hingga masa yang akan datang. Individu diharuskan setidaknya dapat menyeimbangi kemajuan teknologi. Namun penyebaran pengetahuan kurang merata. Hanya masyarakat di kota yang dapat mengakses informasi terbaru dan mendapatkannya secara lengkap. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya  biaya untuk mengakses maupun sulitnya sinyal beberapa kota di Indonesia. Akibat dari kurangnya ilmu pengetahuan terhadap teknologi informasi yaitu muncul berbagai kelompok pengamen dan pengemis.

Selain itu, angka kemiskinan semakin meningkat karena akibat dari urbanisasi yang dilakukan tanpa bekal keterampilan. Urbanisasi merupakan pergeseran populasi dari daerah pedesaan ke perkotaan. Jika masyarakat pedesaan tidak memiliki keterampilan, maka akan sulit mendapatkan pekerjaan menjadikannya sulit bertahan hidup di kota. Sehingga masyarakat itu akan mencari cara agar dapat memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat berakibat pada munculnya patologi sosial dan kelompok marginal seperti komunitas punk.

Potensi dari teknologi informasi dan komunikasi mampu memerangi kemiskinan di dunia. Tidak menutup kemungkinan bahwa teknologi dapat mengurangi kemiskinan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Yogyakarta dikenal sebagai kota Pendidikan, tetapi pada kenyataannya banyak kalangan yang masih rendah pengetahuannya akan teknologi informasi dan komunikasi. Akibatnya muncul komunitas punk di Yogyakarta yang dapat meningkatkan angka kemiskinan perkotaan.

 

    II.            Rumusan Masalah

1.     Bagaimana latar belakang menjadi punk?

2.   Bagaimana peran teknologi, informasi dan komunikasi untuk mengurangi kemiskinan perkotaan komunitas punk?

 III.            Tujuan

1.     Mengetahui latar belakang menjadi punk.

2.   Mengetahui peran teknologi, informasi dan komunikasi untuk mengurangi kemiskinan perkotaan komunitas punk.

 

 

PEMBAHASAN

1.      Latar belakang menjadi punk

Komunitas punk di Indonesia hanya muncul di beberapa wilayah perkotaan termasuk Kota Yogyakarta. Selain dikenal sebagai kota Pendidikan, Yogyakarta juga merupakan tujuan wisata alam favorit.

Menurut Handayani dan Hendrijanto (2013), motivasi menjadi punk terdiri dari motivasi internal (keinginan beraktifitas dijalanan, pelampiasan rasa kekecewaan, mencari perhatian dan sensasi, aktualisasi diri) dan motivasi eksternal (pengaruh lingkungan kelompok atau teman sebaya, mengadakan perkumpulan). Selain itu juga karena latar belakang dari keluarga miskin kota yang tinggal di kampung padat penduduk.

Faktor penyebab seseorang menjadi punk salah satunya karena ekonomi. Hasil wawancara diperoleh data bahwa mayoritas dari mereka terkena putus hubungan kerja dari perusahaan sehingga tidak mempunyai biaya untuk mencukupi kebutuhannya.

Pada asumsi Craig (1999) punk didefinisikan sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Pemberontakan terjadi karena kondisi yang tidak memihak kepadanya sehingga melakukan perubahan untuk memperbaiki ekonomi. Ditambah adanya anggapan mereka bahwa menjadi punk artinya telah bersikap mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dalam usaha memenuhi kebutuhan.

 

2.      Peran teknologi, informasi dan komunikasi dalam mengurangi kemiskinan perkotaan komunitas punk di Yogyakarta.

Permasalahan dalam teknologi, informasi dan komunikasi serta kemiskinan perkotaan komunitas punk di Yogyakarta adalah sebagai berikut :

a.   Selain masalah ekonomi, mereka juga terisolasi dari berbagai akses teknologi informasi terutama tentang lapangan pekerjaan serta layanan kesehatan. Dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah maupun masyarakat sekitar.

b.  Kelangkaan informasi dan kurangnya efektifitas sistem komunikasi sehingga pemerintah lamban menangani masalah kemiskina. Akibatnya banyak bermunculan kelompok marjinal dan patologi sosial.

c.     Ketidakmampuan komunitas punk terhadap menemukan informasi, pengetahuan dan komunikasi. Padahal hal tersebut merupakan sumber dari interaksi sosial dan ekonomi.

d.     Pengetahuan, pengalaman, dan perspektif kelompok punk sering dianggap remeh terhadap pemecahan masalah yang dihadapi sering diabaikan.

Teknologi, informasi dan komunikasi sangat berpengaruh dalam penurunan angka kemiskinan. Salah satu fungsi dari teknologi informasi adalah sebagai penunjang tersedianya informasi lapangan pekerjaan.

Latar belakang mereka menjadi punk karena berasal dari keluarga miskin yang kehilangan pekerjaan atau rendahnya upah kerja. Dengan adanya informasi tentang lapangan pekerjaan akan menjadi solusi bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan baru sehingga dapat terbebas dari kemiskinan.

 

 

KESIMPULAN

Dari uraian di atas, didapatkan kesimpulan bahwa kondisi ekonomi yang memburuk merupakan dapat menjadi salah satu faktor seseorang memilih bergabung dengan komunitas punk sebagai ekspresi pemberontakan atau cara agar kebutuhannya tercukupi.

Pentingnya peran teknologi, informasi dan komunikasi dalam mengurangi kemiskinan perkotaan terutama komunitas punk di Yogyakarta. Dengan berbekal pemahaman mengenai teknologi informasi, mereka memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang membuat kehidupannya berangsur lebih baik.


 

SARAN

Meratanya teknologi, informasi dan komunikasi di Indonesia merupakan upaya yang mampu menurunkan angka kemiskinan Komunitas punk diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai teknologi. Sehingga mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang layak lewat pemanfaatan teknologi informasi yang ada. Menurunnya jumlah komunitas punk akan sejalan dengan menurunnya angka kemiskinan.


 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Jurnal: Setyaningsih, Rila., Jurnal Perspektif Komunikasi Umj Vol. 1 No. 1: Peran

          Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Mengentaskan Kemiskinan Perkotaan

          (Studi Kasus Pada Komunitas Punk Di Kota Yogyakarta): Universitas Darussalam

          Gontor, 2017.

 

 

 

 

 

Link Jurnal :

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwjqwKCv0KXuAhX3_XMBHVDZDaIQFjAJegQICxAC&url=https%3A%2F%2Fjurnal.umj.ac.id%2Findex.php%2Fperspektif%2Farticle%2Fdownload%2F2680%2F2181&usg=AOvVaw2EGn-ljmdS3FcbAZGK90ss